A. Sinopsis
Aku
sedang menjelaskan teori tentang kebebasan di depan siswaku. Tiba-tiba seorang
siswa mengangkat tangannya, dan bercerita tentang kehidupan yang ia alami di
keluarganya. R. A. Ratih Sanggawuni, begitu nama lengkapnya. Terlahir dari
keluarga ningrat di kalangan keraton solo yang masih memegang teguh
adat-istiadat dan kebudayaan jawa. Ia hidup di zaman modern, namun sebagai
keluarga pembesar, orang tuanya masih bersikap kaku dan keras yang terwujud
dalam pengasuhan anak yang masih kuno dan ketinggalkan zaman.
Saat
ratih masuk SD, ia sangat senang. Karena masa kecilnya tidak mengenal dunia
luar. Saat masuk SD, kebebasan itu mulai dirasakannya walau hanya sedikit.
Suatu
hari, menjelang peringatan hari kartini, wali kelasnya bercerita tentang salah
seorang pahlawan wanita, RA. Kartini. Cerita itu mengilhaminya untuk mulai
menyadari bahwa ia perlu melakukan sesuatu demi dirinya sendiri, yakni berjuang
untuk kebebasan.
Ratih
tidak pernah menduga bahwa masa-masa kartini belum usai. Karena seusai ratih
lulus SMP, ia tidak diperbolehkan masuk ke SMU. Ratih membantahnya, karena ia
ingin belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, akhirnya ratih
menurut juga kepada ayahnya.
Setelah
selesai bercerita, teman sekelasnya bertanya tentang mengapa ratna sekarang
bisa masuk SMU, Ratih menjawab, ia bisa sekolah karena beberapa bulan setelah
kejadian itu, kesehatan ayahnya memburuk akibat penyakit jantung. Dan tak lama
kemudian ayahnya meninggal. Tragis, ratih bisa bersekolah karena ayahnya sudah
meninggal.
B. Analisis
Alur(fungsi utama) dan Pengaluran(sekuen)
1. Analisis
Alur
a. Perincian
fungsi utama
F1:
Penjelasan aku di depan kelas tentang
teori perbedaan.
F2: Acungan tangan seorang siswi kepada
gurunya bertanya apakah dia boleh bercerita tentang kehidupannya.
F3:
Diijinkannya ratih untuk bercerita oleh
gurunya.
F4:
Mulai berceritanya ratih di dalam kelas.
F5:
Terlahirnya ratih dari keturunan
keluarga ningrat di kalangan keraton Solo yang masih memegang teguh
adat-istiadat dan kebudayaan jawa.
F6:
Pengasuhan ratih oleh orang tuanya
dengan cara kuno dan cenderung kaku dan keras.
F7: Tumbuhnya Ratih menjadi gadis cilik Jawa
yang anggun, sesuai dengan gelar darah biru yang disandang keluarganya.
F8:
Masuknya ratih ke sekolah dasar dekat
rumahnya.
F9:
Penyambutan hari kartini di sekolah
dasar ratih waktu kelas tiga.
F10: Berceritanya
wali kelas ratih tentang salah seorang pahlawan wanita, R.A.Kartini.
F11: Pertanyaan
wali kelas Ratih tentang emansipasi wanita sudah disikapi atau belum di daerah
jawa.
F12: Diamnya
ratih karena belum tahu jawaban dari pertanyaan wali kelasnya, lebih tepatnya
ia belum merasakan emansipasi.
F13: Dipanggilnya
Ratih oleh ayahnya setelah merayakan ulang tahun Ratih yang ke lima belas.
F14: Dilarangnya
Ratih untuk melanjutkan sekolah ke SMU oleh Ayahnya.
F15: Pembelaan
Ratih atas dirinya agar bisa melanjutkan sekolah.
F16: Bentakkan
ayah kepada Ratih agar Ratih jangan melawan.
F17: Selesainya
Ratih bercerita tentang kehidupannya.
F18: Bertanya
seorang siswa kepada Ratih, kenapa Ratih sekarang bisa sekolah di SMU.
F19: Jawaban
Ratih atas pertanyaan temannya, ia bisa sekolah karena Ayahnya terkena penyakit
jantung dan meninggal dunia sebelum Ratih masuk SMU.
b. Bagan
fungsi utama
c. Deskrifsi
Alur
Aku adalah seorang guru
di sebuah kelas, aku menjelaskan sebuah teori tentang kebebasan di depan
murid-muridku. Ada seorang murid, ia bernama Ratih. Saat aku bercerita tentang
kebebasan, ia mengangkat tangan ingin bercerita tentang kehidupannya yang
sejalan dengan apa yang dibahas olehku saat ini.
Ratih terlahir dari
turunan keluarga ningrat di kalangan keraton Solo yang masih memegang teguh
adat-istiadat dan kebudayaan jawa. Hal tersebut membuat orangtuanya bersikap
kaku dan keras serta berwujud pada pengasuhan anak yang masih kuno dan
ketinggalan zaman. Rasa ingin melindungi dan pengajaran dari orangtuanya yang
terlalu berlebihan membuat Ratih tidak diijinkan keluar rumah.
Saat ratih masuk SD, ia
sangat bahagia karena dapat merasakan hidup di luar rumah dan dapat bergaul
dengan teman sebayanya. Ketika Ratih duduk di bangku kelas 3 SD, menjelang
peringatan Hari Kartini 21 April Ratih mendengar sebuah cerita yang membuat ia
perlahan menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk dirinya. Seperti RA.
Kartini yang memperjuangkan keadilan gender dan emansipasi wanita. Dengan
serius Ratih mendengarkan kisah perjuangan RA Kartini yang diceritakan oleh
gurunya.
Setelah selesai
bercerita, gurunya bertanya mengenai emansipasi wanita di daerah jawa, Ratih
bingung, iabelum tahu apakah emansipasi wanita itu sudah dilaksanakan di daerah
jawa atau belum. Karena Ratih pun belum merasakannya.
Saat Ratih selesai
merayakan ulang tahunnya yang ke lima belas, ayah Ratih memanggilnya. Ayah
Ratih melarang Ratih untuk melanjutkan sekolah ke SMU dengan alasan hal
tersebut sudah menjadi kebiasaan dan adat-istiadat. Perempuan tidak perlu
bersekolah terlalu tinggi. Perempuan hanya perlu tahu cara mengasuh anak dan
keluarga. Ratih melawan ayahnya, ia tetap ingin melanjutkan sekolah. Ratih
merasa bahwa kebiasaan dan adat istiadat bisa dirubah, apalagi sekarang sudah
jaman modern. Namun ayahnya tetap tidak mengijinkan Ratih untuk bersekolah
lagi, dan Ratih tidak bisa melawannya.
Aku terkesima mendengar
penuturan Ratih, aku kira kisah seperti itu hanya terjadi pada zaman dulu.
Namun, ternyata masih ada perempuan yang tersiksa karena ideologi lama.
Saat Ratih berhenti
bercerita, ada seorang murid yang bertanya mengapa sekarang Ratih bisa sekolah
di SMU. Ratih menjelaskan bahwa beberapa bulan setelah ayahnya melarang Ratih
untuk bersekolah, ayah Ratih sakit jantung dan kemudian meninggal. Sungguh
tragis, seorang gadis belia harus menerima kenyataan bahwa ia bisa melaksanakan
keinginannya untuk bersekolah setelah ayahnya meninggal terlebih dahulu.
2. Analisis
Pengaluran
a. Perincian
sekuen
S1:
Penjelasan aku di depan kelas tentang
teori perbedaan.
S2:
Acungan tangan seorang siswi kepada
gurunya bertanya apakah dia boleh bercerita tentang kehidupannya.
S3:
Dikatakannya oleh Ratih bahwa ceritanya
akan memperkuat teori yang dijelaskan oleh gurunya.
S4:
Diijinkannya ratih untuk bercerita oleh
gurunya.
S5:
Mulai berceritanya ratih di dalam kelas.
S6:
Terlahirnya ratih dari keturunan
keluarga ningrat di kalangan keraton Solo yang masih memegang teguh
adat-istiadat dan kebudayaan jawa.
S7:
Pengasuhan ratih oleh orang tuanya
dengan cara kuno dan cenderung kaku dan keras.
S8:
Tumbuhnya Ratih menjadi gadis cilik Jawa
yang anggun, sesuai dengan gelar darah biru yang disandang keluarganya.
S9:
Tidak diijinkannya Ratih untuk bermain
keluar rumah.
S10: Masuknya
Ratih ke sekolah dasar dekat rumahnya.
S11: Penyambutan
hari kartini di sekolah dasar ratih waktu kelas tiga.
S12: Berceritanya
wali kelas ratih tentang salah seorang pahlawan wanita, R.A.Kartini.
S13: Lahirnya
RA Kartini sebagai bangsawan jepara yang tumbuh di lingkungan yang sangat
kental memahami dan mempraktekkan adat-istiadat Jawa.
S14: Sedikitnya
waktu yang dihabiskan RA Kartini bersama ibunya, Ngasirah.
S15: Interaksi
efektif dirasakan RA Kartini bersama para pengasuhnya.
S16: Sibuknya
Ayah Kartini dengan urusan keraton dan masyarakat, namun melupakan urusan
keluarga.
S17: Diterimanya
nilai-nilai kultural oleh kartini dari para pengasuhnya yang kemudian menentukan
identifikasi dirinya.
S18: Sadarnya
Kartini terhadap kondisi lingkungan masyarakat di sekitarnya.
S19: Sekolahnya
Kartini di sekolah pembesar selama usia 6-12 tahun merupakan pengalaman khusus
di saat ia membentuk landasan pola pikir konfrontasi terhadap keresahan yang
selama ini ia rasakan, ketidakadilan. Ketidakadilan, hanya karena ia seorang
perempuan.
S20: Sadarnya
Kartini terhadap konsep pembawaan dirinya dan orang lain, yang harus menurut
pada perbedaan gender di kalangan masyarakatnya.
S21: didirikannya
sekolah-sekolah untuk rakyat dan wanita oleh Kartini semasa pergerakan
nasional.
S22: Diberikannya
nilai-nilai baru kepada wanita Jawa oleh Kartini, agar jangan hanya mau
bergerak di rumah.
S23: Dibukukannya
kumpulan surat-surat Kartini bersama teman penanya Stella – seorang Belanda –
dan surat-suratnya yang lain, dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
S24: Berkembangnya
emansipasi wanita yang Kartini bentuk sangat pesatsetelah kemerdekaan.
S25: Percayanya
semua orang bahwa Kartini pasti bahagia, karena buah pikiran dan perjuangannya
telah mengantarkan wanita kepada kedudukan yang sejajar dengan laki-laki di
masa kini.
S26: Tersenyumnya
Ratih setelah mendengar cerita RA Kartini, seolah mendapat kekuatan baru untuk
bergerak.
S27: Pertanyaan
wali kelas Ratih tentang emansipasi wanita sudah disikapi atau belum di daerah
jawa.
S28: Diamnya
ratih karena belum tahu jawaban dari pertanyaan wali kelasnya, lebih tepatnya
ia belum merasakan emansipasi.
S29: Dipanggilnya
Ratih oleh ayahnya setelah merayakan ulang tahun Ratih yang ke lima belas.
S30: Dilarangnya
Ratih untuk melanjutkan sekolah ke SMU oleh Ayahnya.
S31: Pembelaan
Ratih atas dirinya agar bisa melanjutkan sekolah.
S32: Bentakkan
ayah kepada Ratih agar Ratih jangan melawan.
S33: Berhentinya
Ratih bersikeras melawan ayahnya.
S34: Selesainya
Ratih bercerita tentang kehidupannya.
S35: Bertanya
seorang siswa kepada Ratih, kenapa Ratih sekarang bisa sekolah di SMU.
S36: Jawaban
Ratih atas pertanyaan temannya, ia bisa sekolah karena beberapa bulan setelah
ayahnya melarang melanjutkan sekolah Ayahnya terkena penyakit jantung dan
meninggal dunia sebelum Ratih masuk SMU.
b. Bagan
sekuen
C. Analisis
Tokoh dan Latar
1. Tokoh
a. Aku
Ditinjau
dari segi jenis tokoh, tokoh Aku termasuk ke dalam tokoh pembantu. Karena tokoh
Aku jarang muncul dalam cerita, tetapi menjadi tokoh yang menceritakan/menggambarkan
kisah yang terjadi dalam cerita.
Berdasarkan
metode gramatik, dapat kita ketahui bahwa tokoh Aku memiliki watak yang baik, berbudi
luhur dan bijak.
“Tentu, apa ada hal yang ingin kamu
koreksi ?”, aku mencoba bersikap demokratis. Bagiku memiliki siswa-siswi yang
kritis dan vokal adalah dambaan bagi kemajuan pendidikan bangsa ini.
Berdasarkan
metode diskursif, tokoh aku berwatak demokratis dan bijaksana.
“…aku mencoba demokratis.”
“…sebagai gurunya tentu aku tidak
akan memaksa.”
b. Ratih
Tokoh
Ratih dalam cerita apabila ditinjau dari segi jenis tokoh termasuk ke dalam
tokoh utama. Karena
tokoh Ratih sering muncul di dalam cerita tersebut. Dan kisah hidup tokoh ini
juga yang menjadi garis besar dalam cerita.
Berdasarkan metode gramatik, tokoh
Ratih mempunyai watak yang baik dan sopan
“Maaf Ibu! Boleh saya bertanya?”
Berdasarkan metode diskursif, tokoh
ratih berwatak penurut
“Dan, sebagai seorang anak Rtaih
tentu menurut kepada kedua orang tuanya.”
Jika dilihat dari segi
sosiologisnya, tokoh Ratih merupakan keluarga ningrat
“Terlahir dari turunan kelurga
ningrat di kalangan keraton solo….”
Berdasarkan dimensi fisiologis tokoh
tokoh, Ratih merupakan seorang perempuan yang anggun.
“Ratih lahir sebagai seorang
perempuan.”
“Ratih tumbuh menjadi gadis cilik
jawa yang anggun, sesuai dengan gelar darah biru yang disandang keluarganya.”
c. RA
Kartini
Dilihat
dari segi jenis tokoh, tokoh RA Kartini merupakan tokoh pembantu. Karena tokoh
tersebut muncul dalam cerita tokoh lain dan kisahnya tidak terlalu dominan. Berdasarkan
dimensi sosiologisnya, tokoh RA Kartini merupakan bangsawan jepara.
“Lahir sebagai bangsawan jepara.”
d. Prabowo
Berdasarkan jenis
tokoh, tokoh yang berperan sebagai Prabowo merupakan tokoh pembantu. Prabowo
merupakan Ayah Ratih. Berdasarkan metode diskursif, tokoh ini bersikap kaku dan
keras serta keras.
“….masih
bersikap kaku dan keras.”
“kultur
Jawa yang keras adalah metode yang dipilih Prabowo untuk memilih anaknya.”
“Kali
ini dengan nada sangat tegas.”
Berdasarkan metode
gramatik, tokoh Prabowo mempunyai perilaku yang masih kuno.
“ini
sudah menjadi kebiasaan dan adat-istiadat kita, Ratih. Perempuan tidak perlu bersekolah
terlalu tinggi. Perempuan hanya perlu tahu cara mengasuh anak dan keluarga.
Bukankah dari kecil, mbahmu sering berkata demikian.”
e. Ibu
Berdasarkan
jenis tokoh, tokoh yang berperan sebagai Ibu merupakan tokoh pembantu. Jika
dilihat dilihat dari metode diskursif, tokoh tersebut memiliki watak yang
lembut.
“…kata ibunya lembut.”
f. Siswa
Berdasarkan
jenis tokoh, tokoh yang berperan sebagai siswa merupakan tokoh pembantu.
Dilihat menggunakan metode gramatik, tokoh ini mempunyai sifat yang penasaran,
karena siswa ini suka bertanya.
“Tiba-tiba ada siswa yang
bertanya,….”
“Pertanyaan cerdas, dan Cuma satu
orang yang memikirkannya.”
g. Ngasirah
Berdasarkan
jenis tokoh, tokoh yang berperan sebagai Ngasirah merupakan tokoh
pembantu. Ngsirah merupakan ibu dari RA
Kartini. Dilihat dari dimensi sosiologis tokoh, Ngasirah merupakan seorang
selir.
“Relatif sedikit waktu yang beliau
habiskan bersama ibunya, Ngasirah. Hal ini dikarenakan Ngasirah bukanlah isteri
utama-atau disebut selir-sehingga ia tinggal di luar keraton.”
h. Ayah
Kartini
Berdasarkan
jenis tokoh, tokoh yang berperan sebagai ayah Kartini merupakan tokoh pembantu.
Jika ditinjau dari metode diskusif, tokoh ini memiliki watak yang tidak peduli
pada urusan keluarga.
“Dan Ayah Kartini begitu sibuk
dengan urusan keraton dan masyarakat, malah melupakan urusan terpenting, yaitu
keluarga.”
i. Para
pengasuh RA Kartini
Berdasarkan
jenis tokoh, tokoh yang berperan sebagai para pengasuh RA Kartini merupakan
tokoh pembantu atau tokoh sampingan.
2. Latar
a. Latar
tempat yang terdapat dalam cerpen ini yaitu ruangan kelas, daerah solo dan
beranda rumah Ratih.
“Tiba-tiba
seorang siswi di pojok kanan ruangan mengangkat tangannya….”
“Di
daerah solo, keluarganya masih tergolong bangsawan yang cukup dihormati
masyarakat.”
“….setelah
Ratih merayakan ulang tahunnya yang ke lima belas memanggilnya ke beranda.”
b. Latar
waktu yang terdapat dalam cerpen ini yaitu suatu hari, suatu malam
“Suatu hari, menjelang peringatan
Hari Kartini 21 April ….”
“Ayah Ratih pada suatu malam….”
c. Latar
suasana yang terdapat dalam cerpen ini yaitu hening dan tragis.
“Suasana kelas hening.”
“Tragis ya, aku bisa bersekolah
karena ayahku sudah meninggal.”
D. Gaya
Penceritaan
1. Modus
a. Jenis
penceritaan
Di
dalam cerpen “Aku, Ratih dan Kartini” Karya Puja Pramudya ini, jenis
penceritaan menggunakan pencerita intern. Pencerita intern yaitu pencerita yang
hadir di dalam teks dan mengambil posisi sebagai tokoh/sudut pandang orang
pertama. Maksudnya, si pencerita ikut berperan di dalam teks. Hal tersebut
tergambar pada penggalan cerita berikut.
Tiba-tiba seorang siswi di pojok
kanan ruangan mengangkat tangannya dan berkata. “Maaf Ibu ! Boleh saya bertanya
?”
“Yak,silahkan”
“Apa saya boleh memperkuat teori
ibu tersebut dengan cerita saya ?”, siswi itu terkesan tahu lebih banyak
tentang hal yang baru saja aku sampaikan.
“Tentu, apa ada hal yang ingin kamu
koreksi ?”, aku mencoba bersikap demokratis. Bagiku memiliki siswa-siswi yang
krtis dan vokal adalah dambaan bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Betapa aku
menyenangi saat-saat dimana aku harus berdiskusi dan beradu fikir dengan
siswa-siswiku.
Seperti
yang tergambar dalam penggalan cerita di atas, jelas bahwa si pencerita ikut
terlibat/berperan di dalam teks.
b. Tipe
pencerita
Dalam
cerpen Aku, Ratih dan Kartini terdapat beberapa tipe pencerita, yaitu sebagai
berikut.
1) Wicara
yang dilaporkan
“Ayah sudah bicara dengan ibumu,
dan ibumu setuju dengan keputusan ayah. Kamu tidak usah melanjutkan
pendidikanmu ke SMU”.
“Baik, terima kasih Ratih…cerita kamu barusan
sangat membantu kita disini untuk lebih memahami pelaksanaan dari nilai-nilai
emansipasi wanita pada zaman sekarang ini”
“Bagaimana Ratih, apa kamu masih
ingin berbagi cerita ?“, sebagai gurunya tentu aku juga tidak akan memaksa.
“Baik, terima kasih Ratih…cerita
kamu barusan sangat membantu kita disini untuk lebih memahami pelaksanaan dari nilai-nilai
emansipasi wanita pada zaman sekarang ini”
2) Wicara
yang dialihkan
“Tidak apa-apa, Bu. Biar saya
lanjutkan sebentar”, katanya. “Mungkin teman-teman sangat bertanya-tanya kenapa
sekarang saya boleh bersekolah ? Saya saja tidak tahu harus bagaimana
merasakannya ? Entah saya harus senang atau sedih bisa bersekolah. Karena
beberapa bulan setelah kejadian itu, kesehatan Ayah saya memburuk akibat
penyakit jantung yang dideritanya. Dan, tak lama kemudian beliau wafat. Tragis
ya, aku bisa bersekolah karena ayahku sudah meninggal”, kalimatnya berakhir
dengan gemetar.
3) Wicara
yang dinarasikan
R.A. Kartini tercatat sebagai orang
yang giat mengedepankan keadilan gender dan emansipasi wanita. Lahir sebagai
bangsawan Jepara, Kartini tumbuh di lingkungan yang sangat kental memahami dan
mempraktekkan adat-istiadat Jawa. Tahun-tahun awal kehidupannya merupakan saat
yang penting dalam proses pemahaman dan pemaknaan identitasnya kelak.
Relatif sedikit waktu yang beliau
habiskan bersama ibunya, Ngasirah. Hal ini dikarenakan Ngasirah bukanlah isteri
utama – atau disebut selir – sehingga ia tinggal di luar keraton. Bentuk
interaksi yang efektif justru Kartini rasakan bersama para pengasuhnya. Ayahnya
? Sama saja. Meski feodalisme telah runtuh bersamaan dengan Revolusi Prancis,
namun sistem itu masih belum punah total dari tanah Jawa. Dan Ayah Kartini
begitu sibuk dengan urusan keraton dan masyarakat, dan malah melupakan urusan
terpenting, yaitu keluarga. Dari para pengasuhnya inilah, Kartini menerima
banyak nilai-nilai kultural yang kelak menentukan identifikasi dirinya.
2. Kala/waktu
Waktu
dunia yang digambarkan
1) Suatu
hari
“Suatu hari, menjelang peringatan
Hari Kartini 21 April ….”
2) Suatu
malam
“Ayah Ratih pada suatu malam….”
3. Sudut
Pandang
Sudut pandang yang
digunakan dalam cerpen ini adalah First-person-peripheral atau sudut
pandang orang pertama sebagai pembantu atau disebut sebagai akuan-tak sertaan,
yakni sudut pandang di mana tokoh aku hanya menjadi pembantu yang mengantarkan
tokoh lain yang lebih penting. Dalam hal ini tokoh Aku menceritakan kehidupan
Ratih yang berperan sebagai tokoh utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar